Pasar Papringan

Pasar Papringan

Pasar Papringan Ngadiprono merupakan sebuah pasar tradisional yang berbeda dengan pasar pada umumnya karena pasar ini di gelar di area kebun bambu. Pasar papringan ngadiprono berlokasi di dusun ngadiprono, desa ngadimulyo, kecamatan kedu, kabupaten temanggung, provinsi jawa tengah. Pasar papringan sangat unit karena hanya buka tiap 35 hari (selapan) dua kali yakni tiap hari minggu wage dan minggu pon. Selain itu, transaksi di pasar ini juga tidak menggunakan uang rupiah tetapi menggunakan mata uang terbuat dari bambu yang di sebut “keping pring”.

Ada tiga kategori yang di jual di pasar papringan ngadiprono yakni kuliner tradisional, hasil tani, dan kerajinan. Kuliner yang di jual di pasar ini adalah kuliner sehat (tanpa bahan kimia, tanpa msg, tanpa bahan pengawet, tanpa pemanis dan pewarna buatan). Hasil tani yang di jual merupakan hasil pertanian organik dari msyarakat sekitar. Pasar papringan adalah pasar ramah lingkungan karena pasar ini meminimalkan penggunaan kemasan dan perlengkapan berbahan plastik. Pendirian pasar papringan selain untuk meningkatkan ekonomi msyarakat desa juga sebagai upaya konservasi kebun bambu yang saat ini mulai terabaiakan. Sebelum menjadi pasar papringan, area kebun bambu tersebut awalnya digunakan warga sebagai tempat pembuangan sampah.

Pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam, kebudayaan masyarakat desa, serta kearifan lokal yang kini mulai langka yakni keberadaan jalan trasah atau di sebut juga jalan telasah batu. Pengelola pasar papringan ngadiprono adalah pemuda dusun ngadiprono yang tergabung dalam komunitas Mata Air dengan pendamping tim ahli dari Spedagi. Pasar Papringan merupakan salah satu bentuk program revitalisasi desa yang di gagas oleh spedagi. Pasar papringan ngadiprono bukan sekedar gelaran pasar namun sebuah upaya menuju kemandirian desa serta sarana edukasi masyarakat berwawasan lingkungan.

Leave a Reply

Close Menu